Plh Wali Kota Tasikmalaya, Rd Diky Candranegara: Jum:at Resik Bukan Agenda Seremonial
- account_circle adminastakona
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 13
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Astakona, BERITA TASIKMALAYA – Pelaksanaan program Jum’at Resik di kawasan Jalan Lingkar Utara Kota Tasikmalaya mendapat sorotan langsung dari Pelaksana Harian (Plh) Wali Kota Tasikmalaya, Rd Diky Candranegara. Ia mengingatkan agar kegiatan gotong royong yang rutin digelar tersebut tidak berhenti sebagai agenda seremonial tanpa dampak nyata terhadap kebersihan kota.
Sorotan itu disampaikan Diky saat meninjau langsung kegiatan bersih-bersih di kawasan Lingkar Utara, Jumat (22/5/2026). Menurutnya, semangat gotong royong yang dibangun melalui program tersebut merupakan langkah positif, namun hasilnya harus benar-benar terlihat di lapangan dan dirasakan masyarakat.
Ia menegaskan, kegiatan kebersihan tidak boleh sekadar menjadi rutinitas formal, seperti berkumpul, melakukan aksi simbolis, lalu selesai tanpa tindak lanjut yang berkelanjutan.
“Sayang sekali kalau Jum’at Resik hanya berhenti di seremoni. Jalan Lingkar Utara masih terlihat kotor, saluran air tersumbat, rumput liar belum tertangani. Ini bukan sekadar foto bersama,” ujar Diky.
Menurutnya, wajah kota mencerminkan keseriusan pemerintah dalam mengelola lingkungan perkotaan. Karena itu, upaya menjaga kebersihan harus dilakukan secara konsisten, bukan hanya saat ada agenda tertentu.
Kebersihan Kota Harus Jadi Budaya, Bukan Agenda Insidental
Diky menilai persoalan kebersihan tidak bisa hanya dibebankan kepada satu instansi, melainkan menjadi tanggung jawab bersama seluruh perangkat daerah, aparatur kewilayahan, hingga masyarakat Kota Tasikmalaya.
Semangat gotong royong, kata dia, harus diterjemahkan dalam kerja nyata yang berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan simbolik mingguan.
Tanpa pengawasan dan tindak lanjut yang jelas, hasil kerja di lapangan akan cepat hilang dan persoalan yang sama kembali berulang.
“Kalau kita serius menjaga kota, maka harus konsisten. Jangan tunggu ada tamu atau ada liputan baru jalan dibersihkan. Malu rasanya kalau wajah kota kita sendiri berantakan,” tegasnya.
Pernyataan itu menjadi sinyal evaluasi bahwa program kebersihan perkotaan harus benar-benar menyentuh persoalan mendasar, bukan hanya berorientasi pada pencitraan.
Kondisi saluran drainase yang tersumbat serta rumput liar yang masih terlihat di sejumlah titik Jalan Lingkar Utara menjadi indikator bahwa pekerjaan rumah soal kebersihan Kota Tasikmalaya belum sepenuhnya tuntas.
Pemkot Diminta Konsisten, Warga Menanti Hasil Nyata
Plh Wali Kota berharap kritik yang disampaikannya menjadi bahan evaluasi bersama bagi seluruh jajaran pemerintah daerah.
Menurutnya, jika dikelola dengan serius, program Jum’at Resik bisa menjadi instrumen efektif untuk memperbaiki kebersihan kota, menata drainase, hingga menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih nyaman.
Jalan Lingkar Utara sendiri merupakan salah satu jalur strategis di Kota Tasikmalaya dengan mobilitas kendaraan yang cukup tinggi, sehingga kebersihan kawasan tersebut menjadi bagian dari citra kota di mata masyarakat maupun pendatang.
Diky menegaskan, masyarakat tentu berharap gerakan kebersihan yang dilakukan pemerintah menghasilkan perubahan nyata, bukan hanya dokumentasi kegiatan.
Dengan evaluasi tersebut, Pemerintah Kota Tasikmalaya diharapkan mampu memperkuat implementasi program kebersihan agar manfaatnya benar-benar dirasakan warga secara langsung. (dh/hs)
- Penulis: adminastakona
