Rukyatul Hilal Kota Banjar: Hilal Tak Terlihat
- account_circle adminastakona
- calendar_month 11 jam yang lalu
- visibility 11
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Astakona, BERITA BANJAR — Pemantauan rukyatul hilal untuk menentukan awal Zulhijah 1447 Hijriah di kawasan Gunung Putri Lapas Banjar, Kota Banjar, berlangsung tertib dan mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat. Meski hilal tidak berhasil terlihat akibat kondisi cuaca yang kurang mendukung, awal bulan Zulhijah tetap resmi ditetapkan berdasarkan hasil rukyat nasional.
Kegiatan pemantauan hilal tersebut digelar di titik observasi Gunung Putri Lapas Banjar dengan melibatkan Badan Hisab Rukyat Daerah (BHRD) Kota Banjar, unsur terkait, serta masyarakat yang ingin menyaksikan langsung proses penentuan awal bulan dalam kalender Hijriah.
Ketua BHRD Kota Banjar, Badar Ismail, mengatakan pelaksanaan rukyatul hilal berjalan lancar dan khidmat, meskipun kondisi langit di wilayah Banjar tertutup awan tebal.
Menurutnya, berdasarkan hasil perhitungan hisab, posisi hilal pada saat pemantauan sudah berada sekitar 4 derajat di atas ufuk. Posisi tersebut dinilai telah memenuhi kriteria imkanur rukyat, yakni standar kemungkinan terlihatnya hilal yang menjadi salah satu acuan penetapan awal bulan Hijriah.
“Rukyatul hilal di Kota Banjar Alhamdulillah telah dilaksanakan dengan antusiasme masyarakat yang cukup luar biasa. Walaupun tidak seperti awal Ramadan dan Syawal, masyarakat tetap hadir menyaksikan. Berdasarkan perhitungan, posisi hilal berada sekitar 4 derajat di atas ufuk,” ujar Badar.
Cuaca Mendung Jadi Kendala Pengamatan
Badar menjelaskan, hilal tidak dapat diamati di wilayah Banjar karena kondisi cuaca yang tidak mendukung. Awan tebal dan langit mendung di ufuk barat menjadi penghalang utama dalam proses pengamatan, baik menggunakan mata telanjang maupun alat bantu optik.
Meski hasil rukyat lokal tidak menunjukkan kemunculan hilal, hal tersebut tidak serta-merta menghambat penetapan awal Zulhijah. Sebab, keputusan penentuan awal bulan Hijriah dilakukan secara nasional dengan mempertimbangkan laporan hasil rukyat dari berbagai titik pemantauan di Indonesia.
“Secara perhitungan, posisi hilal sebenarnya sudah memenuhi kriteria imkanur rukyat. Namun di Banjar terkendala mendung tebal sehingga hilal tidak terlihat. Tetapi dari salah satu titik pemantauan di Indonesia, hilal berhasil teramati,” katanya.
Penetapan Nasional Jadi Dasar Awal Zulhijah
Laporan keberhasilan rukyatul hilal dari wilayah lain, termasuk dari Jawa Timur, menjadi dasar penetapan resmi awal Zulhijah 1447 Hijriah di Indonesia.
Dengan keputusan tersebut, 1 Zulhijah 1447 Hijriah resmi dimulai pada keesokan harinya. Artinya, Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah yang jatuh pada 10 Zulhijah diperkirakan berlangsung pada Rabu, 27 Mei 2026.
Pelaksanaan rukyatul hilal di Gunung Putri Lapas Banjar juga menjadi momen edukatif bagi masyarakat. Selain menyaksikan proses observasi hilal secara langsung, masyarakat mendapatkan pemahaman mengenai mekanisme penentuan awal bulan Hijriah yang menggabungkan metode hisab dan rukyat.
Antusiasme warga yang hadir menunjukkan tingginya perhatian masyarakat terhadap momentum penting dalam kalender Islam, khususnya menjelang Hari Raya Idul Adha.(dh/df)
- Penulis: adminastakona
