Berita

Muhammad Farhan: Tahun Pertama Kepemimpinan Jadi Fondasi Pembangunan Kota Bandung

Astakona, BERITA BANDUNG – Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan bahwa satu tahun pertama masa kepemimpinannya merupakan fase krusial untuk meletakkan fondasi pembangunan jangka panjang Kota Bandung. Menurutnya, periode awal ini bukanlah ajang mengejar capaian instan, melainkan tahap strategis untuk memastikan visi Bandung Utama—Unggul, Terbuka, Amanah, Maju, dan Agamis—dapat berjalan berkelanjutan selama lima tahun ke depan.

Farhan menilai keberhasilan seorang pemimpin di Kota Bandung tidak dapat diukur hanya dari hasil jangka pendek. Kepemimpinan, kata dia, harus dipahami sebagai proses berkelanjutan yang memerlukan dasar kebijakan, tata kelola, serta pemahaman mendalam terhadap persoalan riil di lapangan.

“Kepemimpinan ini sifatnya jangka panjang, lima tahun. Apa yang terjadi di setahun pertama adalah upaya meletakkan dasar agar visi Bandung unggul, terbuka, amanah, maju, dan agamis bisa berkelanjutan minimal lima tahun ke depan,” ujarnya.

Refleksi Setahun Memimpin: Kritik, Pembelajaran, dan Keberkahan

Menjelang satu tahun masa kepemimpinannya, Farhan mengaku banyak mendapatkan pembelajaran berharga. Ia menyebut berbagai dinamika yang dihadapi, mulai dari kritik hingga penilaian negatif, sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari proses memimpin kota besar seperti Bandung.

“Alhamdulillah, berkah. Saya menyadari saya punya banyak kekurangan. Ada kritik, ada fitnah, ada yang ngaraco. Tapi itu hal biasa,” ucapnya.

Menurut Farhan, kritik publik justru menjadi cermin untuk memperbaiki kinerja pemerintah kota. Ia menilai keterbukaan terhadap masukan masyarakat merupakan prasyarat penting dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang amanah dan partisipatif, sejalan dengan semangat Bandung Utama.

Dalam berbagai kesempatan, Farhan juga menekankan pentingnya kehadiran langsung pemimpin di tengah masyarakat. Pendekatan ini diyakini mampu mempersempit jarak antara kebijakan di atas kertas dengan realitas yang dihadapi warga di tingkat kelurahan dan RW.

Program Prakarsa dan Siskamling Jadi Pintu Masuk Masalah Riil

Salah satu program yang disebut Farhan sebagai kunci untuk memahami persoalan kota adalah Program Siskamling Siaga Bencana dan Prakarsa. Melalui program ini, Farhan bersama jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) turun langsung ke wilayah-wilayah untuk berdialog dan menyerap aspirasi warga.

“Salah satu program yang kami kick off adalah Prakarsa. Saya keliling ke setiap kelurahan dan RW. Itu bukan pekerjaan biasa. Dari situ saya menemukan banyak permasalahan, tapi juga selalu ada solusi,” ungkapnya.

Dari hasil kunjungan tersebut, Farhan menyoroti persoalan branghang atau lorong sempit yang banyak ditemukan di sejumlah titik Kota Bandung. Ia menyebut di sekitar kawasan Lodaya saja terdapat 46 titik branghang bermasalah yang direncanakan akan dibongkar karena berpotensi menimbulkan persoalan keselamatan dan tata ruang.

“Contohnya branghang. Banyak branghang bermasalah. Di sekitar Lodaya ada 46 titik bermasalah dan akan dibongkar. Tidak mudah, karena rumahnya sudah lama. Tapi ada contoh solusi seperti di Jalan Tengku Angkasa, pemanfaatannya bagus,” jelas Farhan.

Pengalaman tersebut membuka pandangannya bahwa sebagian besar persoalan wilayah sebenarnya telah memiliki contoh solusi yang bisa direplikasi di tempat lain. Tantangannya terletak pada keberanian mengambil keputusan serta konsistensi dalam pelaksanaan kebijakan.

“Itu membuka mata saya bahwa permasalahan di wilayah sebenarnya sudah ada solusinya,” tuturnya.

Farhan menegaskan, fondasi yang dibangun pada tahun pertama ini diharapkan menjadi pijakan kuat bagi percepatan pembangunan Kota Bandung yang lebih tertata, aman, dan berkelanjutan di tahun-tahun berikutnya. (red)

Related Articles

Back to top button