Berita

Tasikmalaya Waspada: Narkoba Masuk Lewat Medsos, Warga Diminta Aktif Awasi Anak.

Astakona, Berita TasikmalayaPeredaran narkoba di Tasikmalaya kini tidak lagi bergerak di ruang-ruang tersembunyi. Modusnya bergeser terang-terangan yaitu mulai menggunakan media sosial sebagai media untuk berinteraksi dan bertransaksi melalui cara atau sistem cash on delivery (COD). Pola baru ini terungkap setelah Satuan Reserse Narkoba Polres Tasikmalaya Kota membongkar sejumlah kasus penyalahgunaan narkotika dan obat keras sepanjang Januari 2026.

Dalam pengungkapan tersebut, polisi menangani lima kasus berbeda, meliputi narkotika jenis sabu, narkotika sintetis seperti tembakau gorila, hingga penyalahgunaan obat keras sediaan farmasi. Lima orang tersangka diamankan dengan peran beragam—mulai dari kurir, pengedar, hingga penjual. Barang bukti yang disita menunjukkan bahwa praktik ini bukan sekadar coba-coba, melainkan sudah berjalan sistematis.

Modus Bergeser, Ancaman Kian Dekat

Yang patut dicermati, peredaran narkoba di Tasikmalaya kini memanfaatkan kebiasaan digital masyarakat. Media sosial digunakan untuk komunikasi dan pemesanan, sementara COD menjadi jalur distribusi yang dinilai cepat dan minim risiko. Pola ini membuat narkoba semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama bagi remaja yang akrab dengan gawai dan transaksi daring.

Wilayah pengungkapan kasus pun tersebar di beberapa kecamatan. Fakta ini menegaskan bahwa peredaran narkoba tidak terpusat di satu lokasi tertentu. Ia menyebar, adaptif, dan mengikuti ritme kota. Dalam konteks ini, Tasikmalaya tak bisa lagi dianggap “aman-aman saja”.

Peran Warga dan Orang Tua Jadi Garis Pertahanan

Pengungkapan kasus bermula dari laporan masyarakat yang mencurigai aktivitas transaksi tidak wajar. Dari sinilah aparat melakukan penyelidikan hingga penangkapan. Fakta ini menunjukkan bahwa keberhasilan penindakan sangat bergantung pada kepekaan warga.

Namun peran warga tak cukup berhenti pada pelaporan. Orang tua memegang kunci pencegahan paling awal. Pengawasan terhadap aktivitas digital anak, pergaulan, serta perubahan perilaku harus dilakukan secara konsisten. Ketika narkoba masuk lewat media sosial dan COD, pengawasan keluarga menjadi benteng pertama sebelum aparat bertindak.

Orang tua juga didorong untuk membangun komunikasi terbuka dengan anak. Edukasi tentang bahaya narkoba, termasuk modus perekrutannya yang kian canggih, menjadi langkah penting agar anak tidak mudah terjerumus. Mengabaikan tanda-tanda awal—seperti perubahan emosi, pola tidur, atau kebiasaan belanja mencurigakan—berisiko membuka celah yang sulit ditutup.

Alarm Sosial untuk Kota Pendidikan

Polres Tasikmalaya Kota menegaskan bahwa selain penindakan hukum, langkah preventif terus dikedepankan. diantaranya melalui Edukasi publik, serta berbagai imbauan, dan ajakan melapor melalui layanan kepolisian menjadi bagian dari strategi menekan peredaran narkoba di Tasikmalaya.

Julukan kota santri menjadi terasa ironis. Ketika narkoba masuk lewat jalur digital, ancamannya tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga mulai terasa berdampak negatif dan menggerogoti moral dan masa depan generasi muda.

Kasus-kasus di awal 2026 ini harus menjadi alarm bersama. Tanpa kewaspadaan kolektif—polisi, warga, dan orang tua—peredaran narkoba berpotensi semakin masif dan sulit dikendalikan. Pencegahan harus dilakukan bersama, perhatian dan kewaspadaan dari semua pihak dirasa sangat penting, dimulai dari lingkungan terdekat: rumah, sekolah, dan komunitas. (red)

Related Articles

Back to top button