Ekspor Udang Indonesia Aman Dikonsumsi, Standar Keamanan Pangan Diperkuat

astakona.com, BERITA EKONOMI & BISNIS. Industri perudangan nasional memastikan bahwa ekspor udang Indonesia tetap berada dalam koridor standar keamanan pangan internasional. Pernyataan ini disampaikan oleh Shrimp Club Indonesia (SCI) menyusul temuan adanya kandungan Cesium-137 atau zat radioaktif pada sebagian kecil produk udang mentah beku yang diekspor ke Amerika Serikat.
Ketua Umum SCI, Andi Tamsil, menegaskan bahwa temuan tersebut hanya terbatas pada satu perusahaan dan pengiriman tertentu. Ia menolak jika kasus itu digeneralisasi sebagai representasi dari seluruh industri udang nasional.
“Investigasi harus dilakukan secara terbuka dan cepat agar tidak menimbulkan kesan negatif terhadap semua produk ekspor udang Indonesia,” ujar Andi saat konferensi pers di Jakarta, Selasa.
Kasus ini mencuat setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menemukan indikasi kontaminasi pada produk yang diproses oleh PT Bahari Makmur Sejati (BMS Foods). Temuan itu sempat mengguncang kepercayaan sebagian buyer internasional. Menurut Andi, jika isu ini tidak ditangani dengan benar, dampaknya bisa meluas terhadap eksportir lain yang sebenarnya tidak terlibat.
“Dalam jangka pendek, pasar bisa sedikit terpengaruh. Buyer dari Amerika Serikat maupun negara lain kini menunggu hasil investigasi resmi. Mereka akan lebih berhati-hati sebelum mengambil keputusan,” jelasnya.
Meski demikian, Andi menekankan bahwa industri udang nasional selama ini telah menerapkan standar ketat sesuai regulasi global. Produk ekspor udang Indonesia diproduksi dengan mengacu pada aturan FDA Amerika Serikat, Uni Eropa, serta sertifikasi internasional seperti Best Aquaculture Practices (BAP) dan Aquaculture Stewardship Council (ASC). Hal ini menjadi bukti komitmen pelaku usaha dalam menjaga kualitas dan keamanan produk.
Insiden ini, lanjutnya, menjadi momentum penting untuk memperkuat sistem keamanan pangan di sektor perikanan. Ia mendorong pemerintah bersama asosiasi dan pelaku usaha segera merancang protokol tambahan, termasuk prosedur pengujian berkala, untuk memastikan tidak ada celah dalam pengawasan.
“Dengan langkah korektif, penguatan sertifikasi, dan monitoring yang lebih ketat, kepercayaan pasar bisa segera pulih,” tambah Andi.
SCI juga optimistis bahwa ekspor udang Indonesia akan tetap menjadi andalan di pasar global. Indonesia sendiri merupakan salah satu pemasok utama udang dunia, sehingga transparansi dan konsistensi dalam menjaga kualitas menjadi faktor penentu.
“Ke depan, transparansi dan kerja sama erat antara pemerintah, asosiasi, serta pelaku industri menjadi kunci utama agar kepercayaan internasional tetap terjaga,” tegas Andi.
Dengan komitmen bersama tersebut, diharapkan pasar internasional kembali menerima ekspor udang Indonesia tanpa keraguan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam perdagangan komoditas perikanan dunia. (Astakona.com/AA)




