Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sudut Pandang » Natural Tanpa Ordal: Seruan Moral Menjaga Marwah Perguruan Tinggi

Natural Tanpa Ordal: Seruan Moral Menjaga Marwah Perguruan Tinggi

  • account_circle adminastakona
  • calendar_month 5 jam yang lalu
  • visibility 7
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Astakona, SUDUT PANDANG– Perguruan tinggi bukan sekadar tempat seseorang mengejar gelar akademik. Ia adalah ruang pembentukan ilmu, karakter, nalar, etika, dan kepemimpinan. Dari ruang inilah lahir calon-calon profesional, birokrat, pendidik, pengusaha, pemimpin masyarakat, bahkan pengambil kebijakan publik di masa depan.

Karena itu, proses masuk ke perguruan tinggi tidak boleh dipandang sebagai urusan administratif semata. Penerimaan mahasiswa baru adalah pintu awal yang menentukan marwah dunia akademik. Bila pintu itu dijaga dengan kejujuran, maka kampus akan melahirkan manusia yang percaya pada kemampuan diri. Namun bila pintu itu dibuka oleh titipan, tekanan, kedekatan, atau bantuan orang dalam, maka sejak langkah pertama nilai pendidikan sudah mulai dilukai.

Slogan “Natural Tanpa Ordal” lahir dari kesadaran sederhana, tetapi sangat mendasar: keberhasilan akademik seharusnya ditempuh melalui kemampuan, kerja keras, kesiapan mental, dan prestasi. Bukan melalui jalan belakang. Bukan karena bisikan pihak tertentu. Bukan pula karena akses khusus yang membuat sebagian orang merasa memiliki jalur lebih dekat menuju bangku kuliah.

Seruan ini bukan untuk menyerang siapa pun. Ini adalah ajakan moral untuk semua pihak, baik yang terlibat langsung dalam sistem pendidikan maupun yang berada di luar sistem. Untuk calon mahasiswa, orang tua, penyelenggara pendidikan, pejabat publik, tokoh masyarakat, alumni, hingga siapa pun yang memiliki pengaruh sosial. Sebab integritas akademik tidak hanya dijaga oleh aturan, tetapi juga oleh kesadaran bersama.

Kita perlu jujur melihat kenyataan. Dalam kehidupan sosial, istilah “ordal” atau orang dalam sering dianggap sebagai hal biasa. Bahkan dalam banyak percakapan, ia kadang dibungkus sebagai strategi, peluang, atau bantuan. Padahal, ketika orang dalam digunakan untuk memotong proses, menekan sistem, atau membuka akses yang tidak semestinya, di situlah masalah etik dimulai.

Relasi sosial tentu tidak salah. Silaturahmi tidak salah. Mengenal banyak orang juga bukan dosa. Yang menjadi persoalan adalah ketika kedekatan berubah menjadi alat untuk memperoleh hak yang seharusnya diperebutkan secara adil. Ketika koneksi mengalahkan kompetensi, ketika privilese menggeser prestasi, dan ketika titipan dianggap lebih kuat daripada kemampuan, maka dunia pendidikan sedang kehilangan salah satu fondasi utamanya: kejujuran.

Budaya ordal yang disalahgunakan dapat membuka ruang bagi banyak persoalan serius. Ia bisa menjadi pintu masuk gratifikasi, konflik kepentingan, penyalahgunaan wewenang, dan intervensi terhadap proses seleksi. Lebih jauh dari itu, ia dapat merusak kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan.

Kepercayaan publik adalah modal besar perguruan tinggi. Kampus tidak hanya dinilai dari gedung, akreditasi, fasilitas, atau jumlah mahasiswanya. Kampus juga dinilai dari keyakinan masyarakat bahwa proses di dalamnya berlangsung adil. Sekali kepercayaan itu retak, maka yang rusak bukan hanya citra lembaga, tetapi juga kehormatan dunia akademik itu sendiri.

Masuk perguruan tinggi melalui cara yang tidak semestinya mungkin terlihat seperti kemenangan kecil. Tetapi sebenarnya, itu adalah kekalahan moral yang panjang. Seseorang mungkin mendapatkan kursi, tetapi kehilangan kesempatan untuk membangun kebanggaan sejati. Ia mungkin tercatat sebagai mahasiswa, tetapi sejak awal telah dibebani oleh kenyataan bahwa keberhasilannya bukan sepenuhnya lahir dari kemampuan sendiri.

Sebaliknya, mereka yang diterima secara murni melalui proses yang adil akan membawa rasa percaya diri yang berbeda. Ada harga diri yang tumbuh dari perjuangan. Ada tanggung jawab yang lahir dari proses. Ada kebanggaan yang tidak perlu disembunyikan. Mereka masuk bukan karena ditarik oleh tangan tersembunyi, tetapi karena berdiri di atas usaha sendiri.

Di sinilah pentingnya membangun imunitas akademik. Imunitas akademik adalah daya tahan moral dunia pendidikan untuk menolak segala bentuk gratifikasi, titipan, nepotisme, intervensi, dan praktik tidak etis lainnya. Ia bukan hanya soal sistem seleksi yang rapi, tetapi juga soal keberanian moral untuk mengatakan tidak pada cara-cara yang mencederai keadilan.

Imunitas akademik harus dibangun sejak hulu. Orang tua perlu menanamkan pemahaman bahwa keberhasilan anak tidak boleh dibeli dengan cara yang merusak nilai. Calon mahasiswa perlu dididik untuk percaya pada proses, bukan mencari celah. Penyelenggara pendidikan wajib menjaga objektivitas, transparansi, dan akuntabilitas. Sementara masyarakat perlu berhenti menormalisasi anggapan bahwa semua urusan hanya bisa selesai jika memiliki orang dalam.

Inilah tantangan kita bersama. Kadang yang merusak sistem bukan hanya orang yang meminta bantuan, tetapi juga orang yang merasa bangga karena bisa “membantu” melompati prosedur. Kadang yang melemahkan integritas bukan hanya penerima titipan, tetapi juga lingkungan sosial yang menganggap titipan sebagai hal lumrah.

Padahal, pendidikan yang bermartabat tidak boleh dimulai dari kompromi yang keliru. Kampus adalah tempat menanamkan nilai, bukan tempat pertama kali seseorang belajar bahwa kedekatan bisa mengalahkan aturan. Bila sejak awal mahasiswa diperkenalkan pada cara-cara tidak jujur, bagaimana mungkin kita berharap kelak ia menjadi pemimpin yang lurus?

Natural Tanpa Ordal bukan sekadar slogan. Ini adalah gerakan kesadaran. Gerakan untuk mengembalikan kepercayaan bahwa bangku kuliah harus diperoleh melalui prestasi, bukan privilese; melalui kompetensi, bukan koneksi; melalui integritas, bukan gratifikasi.

Seruan ini juga menjadi pengingat bahwa menjaga marwah perguruan tinggi bukan hanya tugas kampus. Ini adalah tanggung jawab kolektif. Setiap orang yang menolak titipan sedang ikut menjaga masa depan pendidikan. Setiap orang yang menolak intervensi sedang ikut merawat keadilan. Setiap orang yang memilih jalur jujur sedang ikut membangun generasi yang lebih kuat secara moral.

Pada akhirnya, kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari siapa yang berhasil masuk, tetapi juga dari bagaimana ia masuk. Sebab proses yang jujur akan melahirkan kebanggaan. Proses yang adil akan menumbuhkan kepercayaan. Dan proses yang bersih akan menjadi fondasi bagi lahirnya pemimpin yang berintegritas.

Pendidikan yang bermartabat selalu dimulai dari pintu yang dijaga dengan kejujuran. Bila pintu itu bersih, maka harapan yang masuk ke dalamnya pun akan tumbuh dengan lebih terhormat.

Roni Imroni, S.Sos., M.M.
Kepala Bidang IKP Dishubkominfo Kabupaten Tasikmalaya

  • Penulis: adminastakona

Rekomendasi Untuk Anda

  • Prediksi Timnas Indonesia Vs Saint Kitts and Nevis di FIFA Series 2026: Era Baru Garuda Dimulai

    Prediksi Timnas Indonesia Vs Saint Kitts and Nevis di FIFA Series 2026: Era Baru Garuda Dimulai

    • calendar_month Jumat, 27 Mar 2026
    • account_circle adminastakona
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Astakona, BERITA OLAHRAGA – Prediksi Timnas Indonesia Vs Saint Kitts and Nevis menjadi sorotan utama jelang bergulirnya FIFA Series 2026, turnamen yang menandai awal era baru Skuad Garuda di bawah kepemimpinan pelatih anyar, John Herdman. Turnamen ini bukan sekadar laga uji coba biasa, melainkan fondasi awal bagi Timnas Indonesia dalam mengejar target besar: lolos ke […]

  • Operasi Pekat Tasikmalaya Ungkap Peredaran Miras Ilegal

    Operasi Pekat Tasikmalaya Ungkap Peredaran Miras Ilegal

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle adminastakona
    • visibility 68
    • 0Komentar

    Astakona, BERITA TASIKMALAYA – Aparat gabungan kembali menunjukkan komitmennya dalam memberantas penyakit masyarakat melalui Operasi Pekat yang digelar di sejumlah titik di Kota Tasikmalaya. Dalam operasi tersebut, petugas berhasil mengamankan ratusan botol minuman keras (miras) yang diduga akan diedarkan ke berbagai wilayah di kota tersebut. Pengungkapan kasus itu terjadi saat petugas melakukan pemeriksaan terhadap sebuah kendaraan […]

  • Diky Chandra Pilih Pernikahan Sederhana, Tanpa Undangan VIP

    Diky Chandra Pilih Pernikahan Sederhana, Tanpa Undangan VIP

    • calendar_month Sabtu, 6 Jun 2026
    • account_circle adminastakona
    • visibility 73
    • 0Komentar

    Astakona, BERITA TASIKMALAYA – Kebahagiaan tengah dirasakan Wakil Wali Kota Tasikmalaya, Raden Diky Chandra Negara. Putra sulungnya, Raden Diffa M. Chandra, resmi menikahi Putri Endita dalam prosesi akad nikah yang berlangsung di Jonggol, Kabupaten Bogor, Sabtu (6/6/2026). Di balik momen sakral tersebut, publik menyoroti konsep pernikahan anak Diky Chandra yang digelar dengan nuansa sederhana dan […]

  • Kebakaran Kandang Ayam Ciamis, Damkar Cegah Api Meluas

    Kebakaran Kandang Ayam Ciamis, Damkar Cegah Api Meluas

    • calendar_month Sabtu, 13 Jun 2026
    • account_circle adminastakona
    • visibility 38
    • 0Komentar

    Astakona, BERITA CIAMIS – Peristiwa Kebakaran Kandang Ayam Ciamis terjadi di Dusun Bandaruka, Desa Karanganyar, Kecamatan Cijeungjing, Jumat (12/6/2026) malam. Sebuah kandang ayam berlantai dua milik warga dilaporkan hangus dilalap api hingga menyebabkan kerugian material yang diperkirakan mencapai Rp150 juta. Kejadian tersebut berlangsung sekitar pukul 21.00 WIB dan sempat membuat warga sekitar panik. Kobaran api […]

  • Andi Ibo DKKT Tasikmalaya

    Andi Ibo Usung Penguatan Kesenian Kota Tasikmalaya

    • calendar_month Selasa, 18 Nov 2025
    • account_circle adminastakona
    • visibility 104
    • 0Komentar

    astakona.com, HIBURAN. Musisi senior asal Tasikmalaya, Andi Jaelani atau Andi Ibo, resmi menyatakan kesiapan maju dalam pemilihan Ketua Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya (DKKT) periode 2025–2030. Kepada sejumlah pihak, ia menegaskan bahwa pencalonan ini didorong oleh keinginannya memperkuat ekosistem seni lokal secara menyeluruh, mulai dari pendataan seniman hingga penyediaan ruang kreatif yang layak. Andi yang telah berkarier […]

  • Indonesia Open 2026 Berakhir Pahit, Tuan Rumah Nirgelar

    Indonesia Open 2026 Berakhir Pahit, Tuan Rumah Nirgelar

    • calendar_month Senin, 8 Jun 2026
    • account_circle adminastakona
    • visibility 44
    • 0Komentar

    Astakona, BERITA OLAHRAGA – Harapan publik untuk melihat wakil Merah Putih berjaya di kandang sendiri harus pupus setelah Indonesia Open 2026 berakhir tanpa satu pun gelar bagi tuan rumah. Meski berhasil meloloskan dua wakil ke partai final, Indonesia gagal mengonversi peluang tersebut menjadi trofi juara pada turnamen bergengsi level BWF World Tour Super 1000 yang […]

expand_less