Retargeting: Bakesbangpol Kabupaten Tasikmalaya Bekali Generasi Emas

astakona.com, BERITA SOSIAL BUDAYA. Suasana aula SMP Negeri 1 Manonjaya pada Kamis pagi (11/9/2025) berbeda dari biasanya. Riuh rendah tawa dan sorakan siswa mewarnai jalannya acara sosialisasi wawasan kebangsaan yang digelar Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kabupaten Tasikmalaya. Tidak ada podium kaku atau ceramah panjang, yang ada justru permainan seru bertema Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika.
Sekitar seratus siswa tampak bersemangat mengikuti jalannya permainan. Beberapa kelompok sibuk menyusun strategi, sebagian lain berusaha menjawab pertanyaan dengan cepat. Saat satu kelompok berhasil menyelesaikan tantangan, terdengar tepuk tangan dan sorakan riuh dari peserta lain. Wawasan kebangsaan yang biasanya identik dengan materi berat, hari ini menjadi cair dan menyenangkan.
“Usia SMP ini adalah generasi emas, yang kelak akan memegang kendali pada momentum Indonesia Emas tahun 2045. Mereka harus dibekali sejak dini dengan wawasan kebangsaan,” ujar Sana Andriana, S.Pd., S.E., M.M., Kepala Bidang Ideologi dan Wawasan Kebangsaan Bakesbangpol Kabupaten Tasikmalaya, seusai kegiatan.
Bagi Sana, keputusan menyasar remaja SMP merupakan langkah strategis. Selama ini, sosialisasi wawasan kebangsaan lebih banyak menyentuh kalangan mahasiswa dan dewasa, dengan pola seminar dan diskusi panel. Namun, metode tersebut dipandang kurang efektif untuk anak usia remaja.
“Materi wawasan kebangsaan itu luas dan berat. Kalau disampaikan lewat seminar, besar kemungkinan tidak efektif. Karena itu kami meng-create konsep game agar mereka bisa belajar dengan gembira tanpa kehilangan substansi,” katanya.
Sosialisasi pagi tadi dipandu oleh Senny Apriani, S.IP., fasilitator muda yang penuh energi. Dengan hangat, ia mengajak para siswa larut dalam dua paket permainan. Tema Pancasila dimainkan lebih dulu, diikuti dengan game bertema Bhinneka Tunggal Ika. “Alhamdulillah, anak-anak sangat antusias. Suasana juga seru,” ungkapnya sambil tersenyum puas melihat keterlibatan peserta.

Pihak sekolah pun tak bisa menyembunyikan kegembiraan. H. Usep, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMP Negeri 1 Manonjaya, menyebut metode ini memberi warna baru dalam pengenalan wawasan kebangsaan. “Materi yang disuguhkan Bakesbangpol bukan saja dibutuhkan, tapi juga diminati. Disajikan dengan permainan membuat anak-anak bersemangat,” ucapnya.
Di balik riuhnya permainan, ada pesan serius yang ingin ditanamkan: cinta tanah air, penghargaan pada perbedaan, dan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia. Nilai-nilai itu diharapkan tumbuh menjadi fondasi ketika kelak para siswa ini dewasa dan menghadapi tantangan zaman.
Bagi Bakesbangpol Kabupaten Tasikmalaya, kegiatan di Manonjaya hanyalah awal dari rangkaian panjang. Sosialisasi serupa akan digelar di berbagai sekolah lain dengan harapan semakin banyak remaja mendapat bekal wawasan kebangsaan sejak dini.
“Dengan langkah-langkah kecil yang bisa kami lakukan ini, semoga kelak mereka menjadi generasi yang tidak saja resah hanya karena kualitas infrastruktur buruk atau layanan publik lambat, tapi juga peka ketika persatuan dan kesatuan bangsa ini retak,” tegas Sana.
Di aula sekolah itu, sorak riang para siswa masih terdengar hingga acara usai. Sebuah pertanda sederhana, bahwa menanamkan rasa kebangsaan bisa dilakukan dengan cara yang menyenangkan. Dan barangkali justru itulah kunci agar pesan kebangsaan tertanam lebih dalam di hati generasi emas. (Astakona.com/AA)


