Bencana longsor di Cisarua Bandung Barat: Suara gemuruh sempat terdengar beberapa saat sebelum longsor.

Astakona, Berita Bandung Barat – Bencana longsor di Cisarua Bandung Barat kembali menorehkan duka mendalam. Tanah longsor yang terjadi di Kampung Babakan RT 05 RW 11 Pasirkuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, menewaskan sedikitnya delapan orang warga. Peristiwa tragis tersebut terjadi pada Sabtu (24/1/2026) dini hari, setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut hampir dua hari tanpa henti.
Intensitas hujan yang tinggi membuat kondisi tanah di kaki Gunung Pasir Cikanang menjadi sangat labil. Sekitar pukul 02.00 hingga 03.00 WIB, tebing besar di kawasan perbukitan runtuh dan langsung menimbun puluhan rumah warga yang berada tepat di bawahnya. Suara gemuruh sempat terdengar beberapa saat sebelum longsor terjadi, namun waktu kejadian yang masih dini hari membuat warga tidak sempat menyelamatkan diri.
Hujan Deras Picu Longsor Besar di Tengah Malam
Wilayah Bandung Raya, termasuk Kecamatan Cisarua, memang dilaporkan diguyur hujan lebat disertai angin kencang sejak dua hari sebelum kejadian. Kondisi ini diduga kuat menjadi faktor utama pemicu longsor di Cisarua Bandung Barat, yang kini tercatat sebagai salah satu bencana paling mematikan di Kabupaten Bandung Barat pada awal tahun 2026.
Kepala Desa Pasirlangu, Nur Awaludin Lubis, mengatakan hingga Sabtu siang jumlah korban meninggal dunia yang berhasil ditemukan mencapai delapan orang. Seluruh korban ditemukan dalam kondisi tertimbun material longsor berupa tanah, bebatuan, dan puing bangunan rumah.
“Longsor terjadi sekitar jam dua pagi lewat. Awalnya terdengar suara gemuruh, lalu tebing runtuh dan langsung menimbun rumah warga,” ujar Nur kepada media di lokasi kejadian.
Puluhan Rumah Tertimbun, Warga Masih Dalam Pencarian
Pemprov Jabar saat ini terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, TNI, Polri, dan tim SAR untuk penanganan darurat serta pencarian warga yang dilaporkan hilang. Berdasarkan data sementara, sebanyak 113 jiwa dari 34 kepala keluarga terdampak dalam kejadian tersebut. Dari jumlah itu, 23 orang berhasil selamat, delapan orang ditemukan meninggal dunia, sementara sekitar 82 orang lainnya masih dalam pencarian.
Desa Pasirlangu dihuni sekitar 111 jiwa dari 34 kepala keluarga. Dari jumlah tersebut, sebanyak 23 warga berhasil ditemukan dalam kondisi selamat. Namun, longsor menyebabkan sedikitnya 30 rumah tertimbun material tanah, sehingga menimbulkan kekhawatiran masih banyak warga yang belum ditemukan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 113 jiwa terdampak langsung akibat longsor di Cisarua Bandung Barat. Dari jumlah tersebut, 83 orang dilaporkan masih dalam proses pencarian. Hingga saat ini, belum dapat dipastikan apakah seluruhnya tertimbun material longsor atau berada di luar lokasi saat kejadian.
Evakuasi Terkendala Tanah Labil dan Ancaman Longsor Susulan
Berdasarkan pantauan wartawan Lintas Priangan di lokasi, tim gabungan dari BPBD Jawa Barat, TNI, Polri, relawan, serta warga setempat terus melakukan proses pencarian dan evakuasi sejak pagi hari. Proses evakuasi berlangsung penuh kehati-hatian mengingat kondisi tanah yang masih labil dan potensi longsor susulan.
Selain itu, hujan yang masih turun di beberapa waktu turut menghambat upaya pencarian korban. Seluruh warga yang berhasil dievakuasi sementara ditempatkan di lokasi pengungsian di Kantor Desa Pasirlangu. Pemerintah daerah bersama BPBD telah menyalurkan bantuan logistik darurat dan memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi.
Petugas kebencanaan juga terus melakukan asesmen lanjutan terhadap pergerakan tanah di sekitar lokasi kejadian. Warga diimbau tetap waspada dan tidak mendekati area rawan longsor hingga kondisi benar-benar dinyatakan aman.
Peristiwa longsor di Cisarua Bandung Barat ini kembali menjadi pengingat serius akan tingginya risiko bencana hidrometeorologi di wilayah perbukitan Jawa Barat, terutama saat musim hujan dengan intensitas tinggi. (red)




