Kota Tasikmalaya: Ngarumat Hulu Cai, Gerakan Selamatkan Sumber Air
- account_circle adminastakona
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 13
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Astakona, BERITA TASIKMALAYA – Gerakan Ngarumat Hulu Cai kembali digaungkan di kawasan Gunung Kokosan, Kelurahan Cibunigeulis, Kecamatan Bungursari, Kota Tasikmalaya, menjelang peringatan Hari Bumi 2026. Kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga respons atas ancaman nyata terhadap keberlangsungan sumber air di wilayah tersebut.
Sejumlah budayawan, komunitas, dan warga turun langsung ke lapangan untuk melakukan penataan kawasan mata air. Upaya ini dilakukan secara gotong royong sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan yang dinilai semakin tertekan akibat perubahan fungsi lahan.
Ketua Dewan Kebudayaan dan Kesenian Tasikmalaya (DKKT), Tatang Pahat, menyebut progres kegiatan di lapangan baru mencapai sekitar 30 persen. Meski demikian, semangat kolektif tetap terjaga demi memastikan kesiapan kegiatan tepat waktu.
Gunung Kokosan dan Peran Strategisnya
Gunung Kokosan bukan sekadar kawasan perbukitan biasa. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu pusat sumber mata air penting di Kota Tasikmalaya. Bahkan, kawasan ini disebut sebagai cikal bakal pengembangan sistem air bersih daerah melalui Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
Pemerintah Kota Tasikmalaya telah melakukan pembebasan lahan secara bertahap sejak 2008 untuk menjaga keberadaan sumber air tersebut. Luas lahan yang telah diamankan mencapai puluhan ribu meter persegi sebagai bagian dari kebijakan perlindungan lingkungan.
Di kawasan ini juga terdapat fasilitas penampungan air yang dikenal sebagai Gedong Cai, yang berfungsi sebagai distribusi air ke wilayah sekitar.
Ancaman Alih Fungsi Lahan
Gerakan Ngarumat Hulu Cai lahir dari kekhawatiran terhadap meningkatnya alih fungsi lahan, terutama aktivitas penambangan dan pembangunan yang tidak terkendali. Kondisi ini berpotensi merusak kawasan resapan air.
Sejumlah laporan menyebutkan, beberapa bukit di wilayah Cibunigeulis telah mengalami degradasi akibat aktivitas tersebut. Jika tidak dikendalikan, kondisi ini dapat memicu krisis air bersih di masa depan.
Budayawan menilai bahwa pelestarian lingkungan harus menjadi prioritas bersama, bukan hanya tanggung jawab pemerintah.
Lebih dari Sekadar Ritual Budaya
Meski mengusung nilai tradisi, Ngarumat Hulu Cai tidak berhenti pada aspek seremonial. Kegiatan ini menjadi simbol perlawanan terhadap kerusakan lingkungan sekaligus ajakan untuk kembali pada kearifan lokal.
Pendekatan budaya dinilai efektif untuk membangun kesadaran masyarakat secara kolektif. Dengan melibatkan unsur adat dan nilai spiritual, pesan pelestarian lingkungan dapat diterima lebih luas.
Menjaga Masa Depan Air
Di tengah ancaman krisis air global, upaya menjaga sumber mata air menjadi semakin penting. Gunung Kokosan dan Gedong Cai memiliki peran vital dalam menopang kebutuhan air masyarakat Tasikmalaya.
Melalui gerakan Ngarumat Hulu Cai, masyarakat diingatkan bahwa keberlanjutan lingkungan bergantung pada tindakan hari ini. Tanpa upaya nyata, potensi krisis air bukan lagi sekadar wacana. (red)
- Penulis: adminastakona
