Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Sudut Pandang » Ramadhan Dihantam OTT Pejabat Daerah, Demokrasi Diuji Kepercayaan Publik

Ramadhan Dihantam OTT Pejabat Daerah, Demokrasi Diuji Kepercayaan Publik

  • account_circle adminastakona
  • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
  • visibility 34
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Astakona, SUDUT PANDANG  – Dalam hitungan bulan, sejumlah kepala daerah kembali tersandung operasi tangkap tangan (OTT) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Terbaru, Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman diamankan dalam operasi KPK di Jawa Tengah. Penangkapan ini menambah daftar kepala daerah yang terjerat kasus korupsi dalam waktu yang relatif berdekatan.

Sebelumnya, KPK juga menjerat Bupati Pati Sudewo serta Bupati Pekalongan Fadia Arafiq dalam perkara berbeda.

Yang membuat publik semakin miris, rangkaian kasus tersebut terjadi di tengah bulan suci Ramadhan—periode yang bagi masyarakat Indonesia identik dengan refleksi moral, pengendalian diri, dan peningkatan ibadah.

Alih-alih menghadirkan kabar tentang integritas pejabat publik, bulan yang seharusnya sarat nilai spiritual justru diwarnai berita penangkapan pejabat daerah.

Fenomena ini memunculkan pertanyaan serius: apakah integritas pejabat publik semakin rapuh, atau justru sistem politik kita yang terus memproduksi masalah yang sama?


Korupsi Kepala Daerah yang Tak Pernah Putus

Kasus korupsi yang melibatkan pejabat daerah sebenarnya bukan fenomena baru. Dalam beberapa tahun terakhir, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berkali-kali melakukan OTT terhadap kepala daerah di berbagai wilayah Indonesia.

Modusnya pun relatif serupa, mulai dari:

  • suap proyek pembangunan

  • pengaturan pengadaan barang dan jasa

  • jual beli jabatan

  • praktik perizinan yang sarat kepentingan

Pola berulang ini menunjukkan bahwa persoalan korupsi daerah bukan sekadar kesalahan individu.

Masalahnya lebih dalam: sistem politik dan tata kelola kekuasaan di daerah masih menyimpan banyak celah.

Biaya politik yang mahal dalam pemilihan kepala daerah sering kali mendorong kandidat mencari dukungan dari berbagai pihak, termasuk kelompok kepentingan dan pengusaha.

Setelah terpilih, muncul tekanan untuk mengembalikan “modal politik”.

Di titik inilah korupsi kerap menemukan ruang.


Ketika Kepercayaan Publik Mulai Terkikis

Korupsi pejabat publik bukan hanya soal kerugian negara atau anggaran yang bocor.

Dampak yang lebih serius adalah rusaknya kepercayaan masyarakat terhadap politik.

Kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat melalui proses demokrasi dan memperoleh legitimasi dari suara masyarakat.

Namun ketika pejabat yang dipilih itu justru tersandung kasus korupsi, publik mulai mempertanyakan efektivitas sistem tersebut.

Apakah demokrasi benar-benar menghasilkan pemimpin yang berintegritas?

Ataukah politik hanya menjadi arena perebutan kekuasaan dan kepentingan pribadi?

Pertanyaan semacam ini perlahan membentuk skeptisisme di tengah masyarakat.


Dari Kekecewaan Menuju Apatisme Politik

Dalam jangka panjang, dampak paling berbahaya dari maraknya korupsi pejabat publik adalah munculnya apatisme politik.

Ketika masyarakat terlalu sering melihat pejabat ditangkap karena korupsi, muncul perasaan bahwa politik adalah ruang yang sulit diperbaiki.

Akibatnya, sebagian masyarakat mulai menjauh dari proses politik.

Gejalanya bisa terlihat dari:

  • menurunnya partisipasi pemilih

  • rendahnya minat mengikuti isu politik

  • munculnya pandangan bahwa semua politisi sama saja

Jika kondisi ini terus berlangsung, demokrasi bisa kehilangan energi utamanya: partisipasi rakyat.

Padahal, tanpa keterlibatan masyarakat, demokrasi hanya akan menjadi prosedur formal tanpa kepercayaan publik.


Ramadhan dan Ujian Integritas Kekuasaan

Bulan Ramadhan seharusnya menjadi momentum refleksi moral, termasuk bagi para pemegang kekuasaan.

Namun rentetan OTT kepala daerah justru menunjukkan bahwa nilai spiritual belum tentu sejalan dengan praktik kekuasaan.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa integritas tidak cukup dibangun melalui simbol atau seremonial keagamaan.

Integritas harus tercermin dalam keputusan, kebijakan, serta cara pejabat menjalankan amanah publik.


Kritik terhadap Arah Pemberantasan Korupsi

Di sisi lain, fenomena maraknya OTT juga memunculkan kritik terhadap arah pemberantasan korupsi di Indonesia.

Peneliti Pusat Studi Anti Korupsi (SAKSI) Universitas Mulawarman Herdiansyah Hamzah menilai keberhasilan KPK tidak seharusnya diukur dari banyaknya operasi tangkap tangan.

Menurutnya, yang lebih penting adalah keberanian lembaga antirasuah tersebut menyasar kasus-kasus besar yang melibatkan lingkaran kekuasaan.

“Sesungguhnya problem utama KPK itu bukan soal jumlah OTT. Angka memang penting, tapi yang dibutuhkan publik adalah KPK yang berani menyasar kasus-kasus besar dan kontroversial,” ujarnya.

Herdiansyah menilai selama ini penindakan KPK masih didominasi kasus di tingkat daerah, sementara aktor yang berada di pusat kekuasaan sering kali sulit disentuh.

“KPK tidak seharusnya hanya menyasar pejabat daerah, tetapi juga mereka yang berada di lingkaran kekuasaan dan punya indikasi kuat terlibat dalam perkara korupsi,” katanya.


Ketika Kasus Besar Mandek

Ia juga menyoroti lambannya penanganan sejumlah kasus besar yang menjadi perhatian publik.

Beberapa di antaranya seperti buronan Harun Masiku, hingga kasus lain yang sempat menyeret sejumlah nama pejabat publik.

Menurut Herdiansyah, lambannya penanganan kasus-kasus tersebut menimbulkan pertanyaan di masyarakat.

“Kalau KPK profesional, seharusnya tidak peduli siapa yang berkuasa, siapa presidennya, atau siapa elit politiknya. KPK harus tetap berjalan sesuai kewenangannya,” ujarnya.

Ia menegaskan, KPK yang ideal adalah lembaga yang benar-benar mandiri dan independen.

Sebaliknya, keraguan dan pertimbangan politik justru menimbulkan kesan bahwa independensi lembaga antirasuah tersebut sedang terganggu.


Alarm bagi Masa Depan Demokrasi

Rentetan OTT terhadap kepala daerah seharusnya menjadi alarm serius bagi sistem pemerintahan dan politik di Indonesia.

Pemberantasan korupsi tidak bisa hanya mengandalkan penangkapan demi penangkapan.

Lebih dari itu, dibutuhkan pembenahan struktural—mulai dari reformasi pembiayaan politik, transparansi pemerintahan, hingga penguatan integritas pejabat publik.

Tanpa pembenahan tersebut, kasus serupa berpotensi terus berulang.

Dan jika korupsi terus menjadi berita rutin, yang paling berbahaya bukan hanya kerugian negara.

Tetapi hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap politik dan demokrasi itu sendiri.

(fd)

  • Penulis: adminastakona

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bupati Tasikmalaya Keluarkan Surat Edaran Larangan Gratifikasi ASN

    Bupati Tasikmalaya Keluarkan Surat Edaran Larangan Gratifikasi ASN

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
    • account_circle adminastakona
    • visibility 40
    • 0Komentar

    Astakona, BERITA TASIKMALAYA = Pemerintah daerah resmi mengeluarkan kebijakan tegas terkait larangan gratifikasi menjelang Hari Raya Idul Fitri. Melalui surat edaran Bupati Tasikmalaya, seluruh ASN Kabupaten Tasikmalaya dilarang meminta Tunjangan Hari Raya (THR) kepada masyarakat, perusahaan, maupun pihak yang memiliki hubungan kerja dengan pemerintah. Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Bupati Tasikmalaya Nomor 0018 Tahun […]

  • Efisiensi Birokrasi vs Kebutuhan Digital Tasikmalaya

    Efisiensi Birokrasi vs Kebutuhan Digital Tasikmalaya

    • calendar_month Kamis, 16 Apr 2026
    • account_circle adminastakona
    • visibility 55
    • 0Komentar

    Astakona, OPINI – Di tengah arus digitalisasi yang semakin tak terelakkan, Kabupaten Tasikmalaya justru menghadapi dilema klasik: antara efisiensi birokrasi dan kebutuhan penguatan sektor komunikasi serta informatika. Kebijakan penggabungan Kominfo dengan Dishub menjadi simbol dari tarik-menarik kepentingan tersebut. Dalam kerangka Peran Kominfo dalam Pemerintah Daerah, kebijakan ini tidak bisa dipandang sebagai langkah administratif biasa. Ia […]

  • Proyek Irigasi Cikalang Rp5,6 Miliar Disorot, Hasil Pekerjaan Dinilai Belum Optimal

    Proyek Irigasi Cikalang Rp5,6 Miliar Disorot, Hasil Pekerjaan Dinilai Belum Optimal

    • calendar_month Jumat, 6 Mar 2026
    • account_circle adminastakona
    • visibility 38
    • 0Komentar

    Astakona, BERITA TASIKMALAYA – Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, Kang Wahid, melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi proyek irigasi Cikalang setelah menerima aduan dari Forum Masyarakat Peduli Cikalang terkait dugaan kualitas pekerjaan yang dinilai kurang maksimal. Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi proyek di lapangan sekaligus mendengar aspirasi masyarakat yang selama ini mempertanyakan hasil […]

  • Tasikmalaya Waspada: Narkoba Masuk Lewat Medsos, Warga Diminta Aktif Awasi Anak.

    Tasikmalaya Waspada: Narkoba Masuk Lewat Medsos, Warga Diminta Aktif Awasi Anak.

    • calendar_month Kamis, 22 Jan 2026
    • account_circle adminastakona
    • visibility 34
    • 0Komentar

    Astakona, Berita Tasikmalaya – Peredaran narkoba di Tasikmalaya kini tidak lagi bergerak di ruang-ruang tersembunyi. Modusnya bergeser terang-terangan yaitu mulai menggunakan media sosial sebagai media untuk berinteraksi dan bertransaksi melalui cara atau sistem cash on delivery (COD). Pola baru ini terungkap setelah Satuan Reserse Narkoba Polres Tasikmalaya Kota membongkar sejumlah kasus penyalahgunaan narkotika dan obat […]

  • DPRD dan Pengelola Sepakat, Polemik Padel Tasikmalaya Mereda

    DPRD dan Pengelola Sepakat, Polemik Padel Tasikmalaya Mereda

    • calendar_month Rabu, 25 Feb 2026
    • account_circle adminastakona
    • visibility 32
    • 0Komentar

    Astakona, BERITA TASIKMALAYA – Polemik perizinan lapangan padel di Kota Tasikmalaya menunjukkan dinamika yang bergerak cepat. Setelah sorotan DPRD mencuat dan memicu perhatian publik, pertemuan resmi akhirnya digelar untuk memastikan kejelasan data serta arah kebijakan yang akan ditempuh. Pertemuan tersebut menjadi ruang klarifikasi terbuka antara Komisi III DPRD dan para pengelola lapangan padel. Fokus utama […]

  • Viral! Warga Cirebon Diduga Jadi Korban Pengantin Pesanan di China, Pemprov Jabar Turun Tangan

    Viral! Warga Cirebon Diduga Jadi Korban Pengantin Pesanan di China, Pemprov Jabar Turun Tangan

    • calendar_month Senin, 2 Mar 2026
    • account_circle adminastakona
    • visibility 39
    • 0Komentar

    Astakona, BERITA JABAR – Kasus seorang perempuan asal Cirebon yang diduga menjadi korban pengantin pesanan di China tengah menjadi sorotan publik setelah videonya viral di media sosial. Dalam rekaman tersebut, korban meminta bantuan langsung kepada Gubernur Jawa Barat agar dapat dipulangkan ke Indonesia. Merespons hal itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat bergerak cepat melakukan penelusuran serta […]

expand_less