Andi Ibo Usung Penguatan Kesenian Kota Tasikmalaya

astakona.com, HIBURAN. Musisi senior asal Tasikmalaya, Andi Jaelani atau Andi Ibo, resmi menyatakan kesiapan maju dalam pemilihan Ketua Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya (DKKT) periode 2025–2030. Kepada sejumlah pihak, ia menegaskan bahwa pencalonan ini didorong oleh keinginannya memperkuat ekosistem seni lokal secara menyeluruh, mulai dari pendataan seniman hingga penyediaan ruang kreatif yang layak.
Andi yang telah berkarier puluhan tahun di industri musik nasional menilai DKKT perlu berfungsi lebih aktif sebagai lembaga pelayanan seni, bukan sekadar organisasi simbolik. Ia menempatkan isu kesejahteraan seniman sebagai prioritas, terutama penyediaan akses kesehatan. Menurutnya, banyak seniman yang kesulitan memperoleh layanan dasar, sehingga diperlukan skema bantuan dan koordinasi dengan pemerintah daerah agar seniman dapat terdaftar dalam program jaminan kesehatan.
Dalam garis besar visinya, Andi mengajukan tiga agenda utama: menghidupkan kembali aktivitas seni lokal, melestarikan kekayaan budaya Tasikmalaya, dan membangun kebersamaan antar-komunitas seni. Ia menyebut ketiga poin tersebut harus dijalankan secara terukur melalui program jangka pendek dan jangka panjang.
Untuk 100 hari pertama, Andi menyiapkan program “Tasik Bergerak” yang mencakup pendataan ulang seniman, open house DKKT untuk komunitas, penyusunan kalender seni tahunan, serta pembukaan jalur komunikasi langsung antara DKKT dan para kreator muda. Ia menegaskan bahwa akurasi data merupakan fondasi penting sebelum lembaga dapat menyusun agenda strategis.
Di sektor pengembangan fasilitas, Andi mengusulkan pembentukan Tasik Creative Hub, sebuah pusat aktivitas seni yang berfungsi sebagai galeri, ruang latihan, studio kreatif, dan area kolaborasi. Ia menilai ketersediaan ruang fisik masih menjadi hambatan utama bagi seniman lokal dalam meningkatkan kualitas karya dan produksi.
Andi juga menargetkan peningkatan peran generasi muda, termasuk pelajar dan mahasiswa, melalui program “GEN-Z Seni Tasik”. Program tersebut dirancang untuk menyediakan ruang belajar, workshop, serta koneksi dengan mentor dari berbagai disiplin seni seperti musik, teater, tari, dan seni rupa.
Di sisi digital, Andi mendorong penguatan dokumentasi kesenian Tasikmalaya melalui kanal media sosial resmi, platform video, hingga marketplace produk kreatif. Ia menilai seniman harus diarahkan agar mampu memanfaatkan ruang digital sebagai sumber eksposur dan pemasukan.
Menurut Andi, kepemimpinan DKKT tidak hanya berkaitan dengan pelestarian seni tradisi, tetapi juga memikirkan keberlanjutan ekosistem secara modern. Ia menyatakan bahwa program-programnya dirancang agar seniman dapat memperoleh manfaat nyata, bukan hanya dukungan seremonial.
Pemilihan Ketua DKKT dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat, dan Andi menyebut dirinya siap mengikuti seluruh proses sebagai bagian dari komitmen ikut membangun kesenian Kota Tasikmalaya secara lebih sistematis. (HH)




