Krisis Energi Mengintai: Selat Hormuz Ditutup Iran, Kapal Pertamina Berpacu Keluar Konflik

Astakona, BERITA DUNIA – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin memanas setelah Selat Hormuz ditutup Iran menyusul serangan udara besar-besaran yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026.
Penutupan jalur laut strategis tersebut diumumkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melalui siaran televisi pemerintah Iran. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital perdagangan energi dunia yang biasanya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global.
Iran menyatakan bahwa akses ke jalur tersebut hanya akan diberikan kepada negara-negara tertentu dengan syarat yang tidak biasa.
IRGC menegaskan bahwa negara Arab maupun Eropa dapat kembali melintas di Selat Hormuz jika mereka mengusir duta besar Amerika Serikat dan Israel dari wilayahnya.

“Setiap negara Arab atau negara Eropa yang mengusir Duta Besar Israel dan Amerika dari wilayahnya akan memiliki kebebasan penuh untuk melintasi Selat Hormuz mulai besok,” demikian pernyataan IRGC yang disiarkan televisi pemerintah Iran.
Langkah ini menunjukkan bahwa Selat Hormuz ditutup Iran bukan sekadar tindakan militer, tetapi juga menjadi alat tekanan politik terhadap negara-negara yang dianggap berpihak kepada Washington dan Tel Aviv.
Jalur Perdagangan Minyak Dunia Hampir Lumpuh
Penutupan jalur strategis tersebut berdampak langsung pada lalu lintas kapal tanker minyak dunia.
Data dari perusahaan analisis maritim Kpler menunjukkan bahwa lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz turun drastis hingga 90 persen hanya dalam waktu satu minggu.
Padahal, selat yang terletak di antara Iran dan Oman ini merupakan jalur penting bagi ekspor minyak mentah dan gas alam cair dari kawasan Teluk menuju Asia, Eropa, dan Amerika.
Akibatnya, harga minyak global langsung melonjak hingga menembus US$100 per barel. Lonjakan tersebut dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah.
Konflik yang melibatkan Iran melawan Amerika Serikat dan Israel juga memicu serangkaian serangan rudal dan drone ke berbagai target di kawasan Teluk, termasuk wilayah yang menampung aset militer Amerika Serikat.
Situasi ini membuat pelayaran komersial di kawasan tersebut menjadi sangat berisiko.
Trump Ancam Serangan Lebih Besar
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya telah memperingatkan Iran agar segera membuka kembali jalur Selat Hormuz.
Trump bahkan mengancam akan menghantam Iran dengan serangan yang jauh lebih besar jika pemblokiran jalur minyak tersebut terus berlangsung.
Namun Iran menegaskan tidak akan membuka jalur tersebut selama perang dengan Amerika Serikat dan Israel masih berlangsung.
Juru bicara IRGC, Ali Mohammad Naini, menegaskan bahwa pasukan Iran tidak akan mengizinkan ekspor minyak menuju negara-negara yang menjadi sekutu Washington dan Tel Aviv.
“Angkatan Bersenjata Iran tidak akan mengizinkan satu liter pun minyak dari kawasan ini menuju pihak musuh dan sekutu-sekutunya hingga pemberitahuan lebih lanjut,” tegas Naini.
Pernyataan tersebut semakin menegaskan bahwa Selat Hormuz ditutup Iran sebagai bagian dari strategi tekanan dalam konflik yang terus memanas di Timur Tengah.
Dampak ke Indonesia: Kapal Pertamina Berhasil Lolos
Di tengah ketegangan tersebut, Indonesia sempat menghadapi risiko gangguan distribusi energi karena sejumlah kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) berada di kawasan Teluk Arab.
Namun dua kapal tanker Indonesia dilaporkan berhasil keluar dari wilayah konflik dan melintasi jalur pelayaran tersebut.
Kapal tersebut adalah PIS Rinjani dan PIS Paragon.
Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Vita, menyatakan kedua kapal itu berhasil beranjak dari wilayah konflik sehingga distribusi energi Indonesia tetap terjaga.
“Dari empat unit kapal milik PIS, dua kapal tercatat telah beranjak dari area konflik, yaitu kapal PIS Rinjani dan kapal PIS Paragon,” ujarnya.
Sementara dua kapal lainnya, yakni VLCC Pertamina Pride dan Gamsunoro, masih berada di kawasan Teluk Arab dan sedang berupaya keluar dari wilayah tersebut.
Pasokan Energi Indonesia Masih Aman
Meski Selat Hormuz ditutup Iran, pemerintah dan Pertamina memastikan pasokan energi nasional masih dalam kondisi stabil.
Hal ini karena rantai pasok energi Indonesia didukung oleh jaringan armada yang cukup besar.
Pertamina Group saat ini mengelola sekitar 345 armada kapal tanker untuk mendukung distribusi energi nasional.
Selain itu, PIS juga melakukan koordinasi intensif dengan berbagai otoritas maritim internasional untuk memastikan keamanan kapal dan awaknya.
“Kami menjalin komunikasi 24 jam dengan otoritas maritim serta pihak berwenang setempat guna memastikan keamanan seluruh kru kapal dan muatan,” kata Vega.
Dengan distribusi energi yang tetap berjalan, pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri tidak mengalami kenaikan akibat konflik ini. (red)