Di Balik Gemerlap Tasikmalaya, Ada Anak yang Bertahan Hidup

Astakona, BERITA TASIKMALAYA – Pusat Kota Tasikmalaya terlihat hidup saat malam. Deretan tempat makan penuh, kendaraan nyaris tak terputus, dan percakapan terdengar di setiap sudut jalan. Kota ini tampak bergerak, tumbuh, dan berkembang.
Namun di sela-sela denyut ekonomi itu, seorang anak perempuan berdiri tanpa alas apa pun selain harapan. Ia bukan pengamen. Bukan pedagang kecil. Ia hanya menunggu tangan-tangan yang tergerak memberi.
Namanya Nisa. Siang hari ia adalah siswi kelas IV SD dengan prestasi membanggakan: peringkat dua di kelasnya. Malam hari, ia berjalan kaki dari kawasan Bojong menuju pusat kota untuk mengemis bersama adiknya.
Kontras inilah yang menampar kesadaran publik tentang kemiskinan di Kota Tasikmalaya.
Kemiskinan di Kota Tasikmalaya: Realitas yang Tak Bisa Ditutup-Tutupi
Selama ini, kemiskinan di Kota Tasikmalaya kerap dibahas dalam forum resmi, laporan tahunan, atau data statistik. Namun fakta di jalanan berbicara lebih keras daripada angka.
Anak usia sekolah yang turun ke jalan bukan sekadar fenomena sosial biasa. Itu adalah indikator bahwa sistem perlindungan sosial belum bekerja maksimal. Jika seorang siswa berprestasi masih harus mengemis demi bertahan hidup, maka persoalannya bukan pada kemauan individu—melainkan pada struktur yang belum sepenuhnya menjangkau.
Kemiskinan di Kota Tasikmalaya bukan hanya tentang penghasilan rendah. Ia menyentuh pendidikan, perlindungan anak, hingga ketahanan keluarga. Dan kasus Nisa memperlihatkan semua simpul itu dalam satu cerita nyata.
Dari Berita ke Gelombang Kepedulian
Ketika kisah Nisa dipublikasikan pada 25 Februari 2026, respons publik muncul cepat. Redaksi menerima berbagai pesan dan panggilan dari warga yang ingin membantu. Ada yang menawarkan bantuan langsung, ada yang meminta informasi detail, ada pula yang mengaku tak bisa tidur setelah membaca ceritanya.
Artinya, empati sosial masih kuat.
Ketua Umum PD Pemuda Persatuan Umat Islam (PUI) Kota Tasikmalaya, Fikri Dikriansyah, S.Hum., menyebut peristiwa ini sebagai bukti pentingnya fungsi kontrol sosial media.
“Masalah sosial seperti ini sebenarnya terjadi setiap hari. Tapi sering tak terlihat. Ketika media mengangkatnya, masyarakat tersentak,” ujarnya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa kemiskinan di Kota Tasikmalaya membutuhkan sorotan yang berkelanjutan. Tanpa tekanan publik, banyak persoalan sosial berisiko tenggelam dalam rutinitas birokrasi.
Pemerintah, Media, dan Ujian Kepedulian
Respons awal juga datang dari pemerintah. Camat Cipedes Kota Tasikmalaya, Cecep Ridwan, menghubungi redaksi untuk meminta informasi lebih lanjut terkait kondisi Nisa. Langkah komunikasi ini menjadi sinyal bahwa perhatian mulai terbangun.
Namun komunikasi hanyalah awal. Publik menunggu langkah konkret.
Asep Ishak, Sekretaris Komunitas SWAKKA (Sawala Wartawan dan Konten Kreator Aspiratif), menilai momentum ini harus dijaga agar tidak berhenti sebagai isu sesaat.
“Peristiwa ini membuktikan bahwa ketika terjadi sinergi yang positif, indah, dan harmonis antara pemerintah daerah dengan media, maka akan tercipta sinergi yang sangat positif bahkan bisa berdampak langsung kepada masyarakat,” tegas Asep.
Menurutnya, kemiskinan di Kota Tasikmalaya tidak akan selesai hanya dengan simpati atau bantuan sporadis. Diperlukan kolaborasi nyata: media menyuarakan fakta, pemerintah mengambil langkah strategis, dan masyarakat terlibat aktif.
Ramadhan dan Tanggung Jawab Sosial
Momentum Ramadhan memberi dimensi moral yang lebih kuat pada kasus ini. Bulan suci selalu identik dengan kepedulian dan solidaritas. Namun solidaritas sejati bukan hanya memberi di jalan, melainkan memastikan anak-anak tak perlu lagi turun ke jalan.
Kemiskinan di Kota Tasikmalaya seharusnya menjadi agenda prioritas lintas sektor. Bantuan pendidikan, intervensi keluarga, hingga pengawasan terhadap eksploitasi anak harus berjalan simultan.
Nisa memiliki potensi akademik. Ia punya masa depan. Tapi masa depan itu bisa tergerus jika realitas ekonomi keluarganya terus menekan.
Jangan Biarkan Ini Berlalu
Kota sering bangga pada pertumbuhan dan pembangunan. Namun ukuran kemajuan sejati adalah sejauh mana kota itu melindungi yang paling rentan.
Kemiskinan di Kota Tasikmalaya kini bukan lagi sekadar isu abstrak. Ia memiliki nama. Ia memiliki wajah. Ia berdiri di bawah lampu jalan setiap malam.
Pertanyaannya sederhana: apakah ini akan menjadi titik balik perubahan? Ataukah hanya menjadi berita yang ramai dibicarakan lalu dilupakan?
Jika sinergi antara pemerintah, media, dan masyarakat benar-benar dijaga, maka kisah seperti Nisa seharusnya bisa menjadi yang terakhir—bukan yang berikutnya.
Dan di tengah gemerlap kota yang terus bergerak, tanggung jawab moral itu kini berada di hadapan semua pihak. (red)




